Pengertian Hibah

Secara bahasa hibah adalah pemberian (athiyah), sedangkan menurut istilah hibah yaitu:

Artinya:

“Pemilikan yang munjiz (selesai) dan muthlak pada sesuatu benda ketika hidup tanpa penggantian meskipun dari yang lebih tinggi.”

Didalam syara’ sendiri menyebutkan hibah mempunyai arti akad yang pokok persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain diwaktu dia hidup, tanpa adanya imbalan. Apabila seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk dimanfaatkan tetapi tidak diberikan kepadanya hak kepemilikan maka harta tersebut disebut i’aarah (pinjaman).

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-7317924421903092&output=html&h=200&slotname=8733598384&adk=991135874&adf=3076278674&pi=t.ma~as.8733598384&w=827&fwrn=4&lmt=1684986347&rafmt=11&format=827×200&url=https%3A%2F%2Fan-nur.ac.id%2Fhibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya%2F&wgl=1&dt=1684986347010&bpp=3&bdt=1380&idt=568&shv=r20230522&mjsv=m202305180101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3Daf0db6b3f817a5d4-2288b120b3e00024%3AT%3D1684986346%3ART%3D1684986346%3AS%3DALNI_MZAq_L2_CPQE6FZLFwBwQTxnxnIBQ&gpic=UID%3D00000c0a5964f1ed%3AT%3D1684986346%3ART%3D1684986346%3AS%3DALNI_Mb4IiZIHrVr4egUEmkd0Hlfu9mhKA&prev_fmts=0x0%2C827x280&nras=1&correlator=2423662094482&frm=20&pv=1&ga_vid=922789517.1684986348&ga_sid=1684986348&ga_hid=1177262190&ga_fc=0&rplot=4&u_tz=420&u_his=1&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1032&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&adx=392&ady=1124&biw=1920&bih=947&scr_x=0&scr_y=0&eid=44759926%2C44759875%2C44759837%2C31074811%2C44772269%2C44782466%2C44785292%2C44788442%2C44790154&oid=2&pvsid=3308485934617677&tmod=1221303151&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&fc=1920&brdim=-8%2C-8%2C-8%2C-8%2C1920%2C0%2C1936%2C1048%2C1920%2C947&vis=1&rsz=%7C%7CpeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&ifi=3&uci=a!3&btvi=1&fsb=1&xpc=qqqjjOIZtq&p=https%3A//an-nur.ac.id&dtd=880

Dasar Hukum Hibah

Hibah disyariatkan dan dihukumi mandub (sunat) dalam Islam. Dan Ayat ayat Al quran maupun teks dalam hadist juga banyak yang menganjurkan penganutnya untuk berbuat baik dengan cara tolong menolong dan salah satu bentuk tolong menolong tersebut adalah memberikan harta kepada orang lain yang betul-betul membutuhkannya, dalam firman Allah:

Artinya:

… dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa . . .( QS: Al Maidah: 2).

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan dawud dari Aisyah ra. berkata:

Artinya:

“Pernah Nabi saw. menerima hadiah dan balasannya hadiah itu.”

Adapun barang yang sudah dihibahkan tidak boleh diminta kembali kecuali hibah orang tua kepada anaknya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a , Nabi saw. bersabda:

Artinya:

“Haram bagi seorang Muslim memberi sesuatu kepada orang lain kemudian memintanya kembali, kecuali pembayaran ayah kepada anaknya.”

Rukun Hibah

Menurut jumhur ulama’ rukun hibah ada empat:

Wahib (Pemberi)

Wahib adalah pemberi hibah, yang menghibahkan barang miliknya kepada orang lain.

Mauhub lah (Penerima)

Penerima hibah adalah seluruh manusia dalam arti orang yang menerima hibah.

Mauhub

Mauhub adalah barang yang di hibahkan.

Shighat (Ijab dan Qabul)

Shighat hibbah adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan ijab dan qabul.

Syarat-Syarat Hibah

Hibah menghendaki adanya penghibah, orang yang diberi hibah, dan sesuatu yang dihibahkan.

Syarat-syarat penghibah

Disyaratkan bagi penghibah syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Penghibah memiliki sesuatu untuk dihibahkan.
  2. Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan.
  3. Penghibah itu orang dewasa, sebab anak-anak kurang kemampuannya.
  4. Penghibah itu tidak dipaksa, sebab hibah itu akad yang mempersyaratkan keridhaan dalam keabsahannya.

Syarat-syarat bagi orang yang diberi hibah

Orang yang diberi hibah disyaratkan benar-benar ada waktu diberi hibah. Bila tidak benar-benar ada, atau diperkirakan adanya, misalnya dalam bentuk janin, maka hibah tidak sah. Apabila orang yang diberi hibah itu ada  di waktu pemberian hibah, akan tetapi dia masih atau gila, maka hibah itu diambil oleh walinya, pemeliharaannya atau orang mendidiknya sekalipun dia orang asing.

Syarat-syarat bagi yang dihibahkan

Disyaratkan bagi yang dihibahkan:

  1. Benar-benar ada
  2. Harta yang bernilai
  3. Dapat dimiliki dzatnya, yakni bahwa yang dihibahkan itu adalah apa yang bisa dimiliki, diterima peredarannya, dan pemilikannya dapat berpindah tangan. Maka tidak sah menghibahkan air di sungai, ikan di laut, burung di udara, masjid-masjid atau pesantren-pesantren.
  4. Tidak berhubungan dengan tempat pemilik hibah, seperti menghibahkan tanaman, pohon, atau bangunan tanpa tanahnya.
  5. Dikhususkan, yakni yang dihibahkan itu bukan untuk umum, sebab pemegangan dengan tangan itu tidak sah kecuali bila ditentukaan (dikhususkan) seperti halnya jaminan.

Masalah Akad Hibah dan Penyelesaiannya

al-umra dan al-ruqba

Al-umra di ambil dari kata ‘umr,  yakni jika pemberi hibah berkata kepada penerima hibah, “Saya membangun rumah ini untukmu,” “Saya membuat rumah ini untuk kamu sepanjang usia saya,” “Seumur hidup kamu, “Sepanjang hayat kamu,” atau “Sepanjang hayatku, jika kamu meninggal, rumah ini aku warisi. Shighat-shighat di atas adalah shighat akad hibah. Akan tetapi, shighat tersebut diikat dengan waktu, yakni umur orang yang memberi hibah atau umur orang yang menerimanya. Sementara itu, salah satu syarat shighat hibah adalah tidak diikat dengan waktu. Meskipun demikian, ulama Mazhab Hanafiah dan Syafi’iah menyepakati sahnya akad hibah tersebut, tetapi syarat yang ditetapkan batal. Ketentuan ini didasarkan pada hadis-hadis shahih Rasulullah Saw., diantaranya hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Al-Umra dibolehkan.” Keduanya juga meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata, “Nabi Saw. melakukan hibah al-umri bagi orang yang menerima hibahnya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Umri bagi orang yang menerima hibah.” Selain itu, Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Tahanlah harta-harta kalian dan jangan merusaknya. Siapa yang memberikan umra maka harta tersebut menjadi milik orang yang diberi, baik ketika masih hidup, ketika sudah meninggal dan bagi keturunannya.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-7317924421903092&output=html&h=200&slotname=8733598384&adk=2706256547&adf=535786006&pi=t.ma~as.8733598384&w=827&fwrn=4&lmt=1684986385&rafmt=11&format=827×200&url=https%3A%2F%2Fan-nur.ac.id%2Fhibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya%2F2%2F&wgl=1&dt=1684986385504&bpp=4&bdt=615&idt=307&shv=r20230522&mjsv=m202305220101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3Daf0db6b3f817a5d4-2288b120b3e00024%3AT%3D1684986346%3ART%3D1684986346%3AS%3DALNI_MZAq_L2_CPQE6FZLFwBwQTxnxnIBQ&gpic=UID%3D00000c0a5964f1ed%3AT%3D1684986346%3ART%3D1684986346%3AS%3DALNI_Mb4IiZIHrVr4egUEmkd0Hlfu9mhKA&prev_fmts=0x0%2C827x280&nras=1&correlator=4795175032654&frm=20&pv=1&ga_vid=1691970161.1684986386&ga_sid=1684986386&ga_hid=1288438243&ga_fc=0&rplot=4&u_tz=420&u_his=2&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1032&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&adx=392&ady=1564&biw=1920&bih=947&scr_x=0&scr_y=0&eid=44759875%2C44759926%2C44759842%2C31074812%2C44788442%2C44789779&oid=2&pvsid=2882923912719597&tmod=1221303151&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fan-nur.ac.id%2Fhibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya%2F&fc=1920&brdim=-8%2C-8%2C-8%2C-8%2C1920%2C0%2C1936%2C1048%2C1920%2C947&vis=1&rsz=%7C%7CpeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&ifi=3&uci=a!3&btvi=1&fsb=1&xpc=PkPN9GW1ni&p=https%3A//an-nur.ac.id&dtd=419

Imam Nawawi berkata dalah Syarh Shahih Muslim. Hadis ini memberitahukan bahwa al-umra adalah hibah yang sah. orang yang menerima hibah tersebut berhak penuh atas harta yang dihibahkan. Harta itu tidak akan kembali kepada orang yang menghibahkan selamanya. Jika mereka mengetahui hal tersebut, siapa yang ingin melakukannya, ia boleh hibah dengan umra. Siapa yang ingin, boleh meninggalkannya. Sebelumnya, mereka membayangkan bahwa hibah umra sama dengan ariyah dan harta yang dihibahkan akan kembali padanya.

TOP
Translate »